Gajah Mada Tetapkan Sumpah Palapa untuk Menyatukan Nusantara Tahun 1336
FajarBali.co.id Pada 26 Agustus 1336, Gajah Mada, Patih Amangkubhumi Majapahit, mengucapkan Sumpah Palapa sebagai janji untuk menyatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Momen ini terjadi saat pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi, menandai tekadnya untuk menguasai wilayah Nusantara demi kejayaan kerajaan.
Gajah Mada sebelumnya diangkat menjadi Patih Kahuripan pada tahun 1319 Masehi setelah keberhasilannya menyelamatkan Raja Prabu Jayanegara. Pada tahun 1329, ia ditunjuk untuk menjadi Patih Majapahit menggantikan Aryo Tadah, namun menolak tanpa terlebih dahulu menghentikan pemberontakan yang terjadi.
Sumpah Palapa diikrarkan pada tahun 1258 Saka atau 1336 Masehi, berisi janji Gajah Mada untuk tidak menikmati palapa (kesenangan duniawi) sebelum berhasil menaklukkan sejumlah wilayah Nusantara, seperti Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Singapura).
Isi dan Makna Sumpah Palapa
Sumpah ini mengandung komitmen kuat Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara melalui penaklukan dan penguatan kekuasaan Majapahit. Istilah amukti palapa memiliki arti bahwa Gajah Mada tidak akan menikmati kesenangan sebelum berhasil menguasai seluruh wilayah yang disebutkan.
Menurut laporan Kompas, sumpah ini menjadi landasan bagi ekspansi wilayah Majapahit yang membawa Nusantara pada masa kejayaan politik dan militer, dengan dukungan tokoh-tokoh seperti Adityawarman dan Laksamana Nala yang memperkuat armada laut kerajaan.
Peran dan Dukungan Tokoh Pendukung
Gajah Mada dikenal sebagai panglima perang utama Majapahit yang memimpin pasukan elite Bhayangkara dan berhasil menumpas berbagai pemberontakan. Dukungan dari Laksamana Nala membantu membangun angkatan laut yang kuat, mengawasi dan mengamankan perairan Nusantara demi pelaksanaan sumpah.
Konsekuensi dan Dampak Sumpah Palapa
Pengucapan sumpah ini memicu serangkaian penaklukan dan penguatan kontrol Majapahit atas wilayah Nusantara, termasuk pertempuran penting seperti Pertempuran Bubat tahun 1357 yang menyebabkan kematian Raja Sunda dan putrinya Dyah Pitaloka Citraresmi. Setelah pertempuran tersebut, wilayah Sunda menjadi bawahan Majapahit sebelum akhirnya merdeka kembali.
Menurut data dari sumber sejarah Pararaton, Sumpah Palapa berperan penting dalam menyatukan Nusantara di bawah satu pemerintahan, menjadi tonggak sejarah yang menunjukkan ambisi politik dan militer Gajah Mada.
Relevansi Sumpah Palapa Saat Ini
Sumpah Palapa tetap menjadi simbol persatuan dan tekad nasional dalam sejarah Indonesia. Dengan konteks pasar dan regulasi saat ini, nilai persatuan yang diusung Gajah Mada menginspirasi pembangunan dan integrasi wilayah yang beragam.
"Sumpah Palapa merupakan janji besar yang menunjukkan keseriusan Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara demi kejayaan Majapahit dan kesejahteraan rakyatnya," ujar sejarawan dari Kompas.