Harga Emas Dunia Turun Menuju Area Support pada 20 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

FajarBali.co.id Harga emas dunia pada Kamis, 20 Agustus 2026, menunjukkan tekanan koreksi dengan potensi pelemahan menuju area support antara 4.310 hingga 4.239 USD per ons. Pergerakan ini terjadi di tengah pengaruh tingkat suku bunga dan inflasi Amerika Serikat yang masih relatif tinggi, mempengaruhi sentimen investor global.

Harga emas dunia per ons pada Rabu, 19 Agustus 2026, tercatat sekitar 4.523 USD, turun dari harga 4.328,79 USD pada 18 Agustus 2026 yang mencatat penurunan 1,98 persen dari hari sebelumnya. Penurunan ini merupakan bagian dari koreksi pasar setelah kenaikan harga emas sebesar 8 persen dalam sebulan terakhir dan lonjakan 30,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data Goldpedia.

Tekanan Koreksi Harga Emas

Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, harga emas tengah mengalami pola koreksi ABC yang umum terjadi pada pasar komoditas. Koreksi ini membawa harga menuju level support yang penting sebagai batas bawah harga agar tidak terjadi penurunan lebih dalam. Level support yang diperkirakan berada di kisaran 4.310 hingga 4.239 USD per ons menjadi titik pengamatan bagi investor untuk mengambil keputusan.

Pengaruh Suku Bunga dan Inflasi AS

Data terakhir menunjukkan tingkat inflasi Amerika Serikat sebesar 3,40 persen dan suku bunga acuan di 3,75 persen pada Juli 2026. Kondisi ini membuat harga emas terkoreksi karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan nilai dolar AS dan menurunkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Hal ini menjadi jawaban atas pertanyaan "bagaimana pengaruh suku bunga terhadap harga emas" yang sering muncul di kalangan investor.

Kondisi Pasar Emas dan Cadangan Dunia

Tren Harga dalam Jangka Pendek dan Panjang

Harga emas pada akhir kuartal ketiga 2026 diperkirakan akan berada di kisaran 4.426,71 USD per ons, dengan prediksi harga dalam 12 bulan ke depan mencapai 4.790,30 USD per ons. Harga tertinggi sepanjang masa tercatat pada Januari 2026 sebesar 5.608,35 USD per ons, menunjukkan volatilitas pasar emas yang cukup tinggi tahun ini.

Cadangan Emas Negara-Negara Besar

Cadangan emas global juga menjadi faktor penting dalam dinamika harga. Amerika Serikat memegang cadangan emas terbesar sebanyak 8.133,46 ton, diikuti oleh Rusia 2.282,98 ton dan Tiongkok 2.346,43 ton per Juni 2026. Sementara Italia, Prancis, dan Jerman memiliki cadangan emas masing-masing di atas 2.400 ton, berdasarkan laporan Goldpedia.

Reaksi Pasar dan Implikasi Bagi Investor

Penurunan harga emas ini menyebabkan para investor berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi jangka pendek. Namun, kenaikan harga sepanjang tahun ini masih menjadi daya tarik jangka panjang. Koreksi harga saat ini dianggap sebagai peluang bagi sebagian investor untuk masuk kembali ke pasar emas.

"Koreksi ini wajar dalam siklus pasar emas dan memberikan level support yang penting untuk memastikan stabilitas harga ke depan," ujar Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures.

Investor juga dianjurkan untuk memahami arti support dan resistance di harga emas guna mengantisipasi pergerakan pasar. Support adalah level harga di mana permintaan diperkirakan akan cukup kuat untuk mencegah penurunan lebih lanjut, sedangkan resistance adalah level harga yang membatasi kenaikan harga.

PeriodeHarga Emas (USD/ons)
18 Agustus 20264.328,79
19 Agustus 20264.523,00
Prediksi Akhir Kuartal 3 20264.426,71
Prediksi 12 Bulan Mendatang4.790,30
  • Harga emas mengalami koreksi setelah kenaikan signifikan selama beberapa bulan terakhir.
  • Pengaruh utama berasal dari tingkat suku bunga dan inflasi AS yang masih tinggi.
  • Level support menjadi titik penting untuk mengamati stabilitas harga emas.
  • Cadangan emas negara-negara besar memengaruhi dinamika pasar global.
  • Investor disarankan memahami pola harga dan level support-resistance untuk strategi investasi.
Prediksi Emas 6.000 Sudah Tidak Berlaku Ini Target Barunya | Kitco NEWS
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Editors Team
Daisy Floren

Most viewed