Indonesia Keluar dari Keanggotaan PBB pada 1965 karena Konflik Malaysia

Smallest Font
Largest Font

FajarBali.co.id Indonesia resmi keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1 Januari 1965 sebagai bentuk protes atas terpilihnya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 1965-1966. Keputusan ini diumumkan secara resmi pada 20 Januari 1965 melalui surat Menteri Luar Negeri Subandrio kepada Sekjen PBB U Thant.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan diterima sebagai anggota ke-60 PBB pada 28 September 1950. Sepanjang keanggotaannya, PBB berperan sebagai mediator dalam proses dekolonisasi Indonesia, termasuk pada Perjanjian Renville (1948) dan Konferensi Meja Bundar (1949).

Namun, hubungan Indonesia dengan PBB memburuk setelah pembentukan Federasi Malaysia pada 16 September 1963 tanpa persetujuan Indonesia dan Filipina. Soekarno, Presiden Indonesia saat itu, menganggap keanggotaan Malaysia di PBB sebagai bentuk dominasi kekuatan Barat, terutama Inggris, yang menentang kepentingan Indonesia.

Penolakan Keanggotaan Malaysia di PBB

Malaysia terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada periode 1965-1966. Indonesia menolak keras keputusan ini karena Federasi Malaysia dianggap sebagai hasil campur tangan kolonial yang merugikan negara-negara tetangga. Soekarno bahkan menyebut PBB sebagai "boneka Inggris" dan menyatakan sikap "Ganyang Malaysia" sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan tersebut.

Proses Keluar dari PBB

Pada 20 Januari 1965, Menteri Luar Negeri Subandrio mengirim surat resmi kepada Sekjen PBB U Thant yang menyatakan pengunduran diri Indonesia dari keanggotaan PBB. Surat ini menegaskan bahwa keluar dari PBB efektif mulai 1 Januari 1965. Langkah ini merupakan puncak dari ketegangan politik yang terjadi akibat pembentukan Malaysia dan posisi PBB yang dianggap memihak.

Dampak dan Konteks Sejarah

Keputusan keluar dari PBB ini menandai salah satu episode penting dalam sejarah politik luar negeri Indonesia di era Soekarno. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang pernah mengundurkan diri dari keanggotaan PBB. Meskipun demikian, keanggotaan Indonesia di PBB terus berlanjut setelah Indonesia kembali bergabung pada tahun berikutnya.

Keluar dari PBB juga mencerminkan ketegangan geopolitik di Asia Tenggara saat itu yang berkaitan dengan proses dekolonisasi dan pembentukan negara-negara baru. PBB sebagai organisasi internasional yang didominasi oleh negara-negara Barat dipandang kurang mendukung kepentingan Indonesia.

Reaksi dan Pernyataan Soekarno

MASUK DAN KELUARNYA INDONESIA DARI KEANGGOTAAN PBB | Story Global

Presiden Soekarno secara terbuka menentang keanggotaan Malaysia di PBB dan mengkritik PBB sebagai alat negara-negara Barat. Pernyataan ini menunjukkan kekecewaan Indonesia terhadap PBB yang dianggap lebih berpihak pada kepentingan kolonial daripada keadilan internasional.

"PBB telah menjadi boneka Inggris dan musuh yang harus dilawan dalam perjuangan kita melawan Malaysia," ujar Presiden Soekarno.

Kesimpulan

Keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB pada 1965 disebabkan oleh ketidaksetujuan terhadap pembentukan Federasi Malaysia dan keanggotaan Malaysia di Dewan Keamanan PBB tanpa persetujuan Indonesia. Langkah ini mencerminkan ketegangan politik dan geopolitik saat itu serta kritik terhadap dominasi negara Barat di PBB.

Editors Team
Daisy Floren