Kerajaan Demak Melakukan Perlawanan Terhadap Portugis pada Awal Abad ke-16
FajarBali.co.id Kerajaan Demak melakukan perlawanan terhadap Portugis pada awal abad ke-16 di wilayah pesisir Pulau Jawa, tepatnya sejak tahun 1511 setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Perlawanan ini dipimpin oleh Raja pertama Demak, Raden Patah, yang berkuasa sejak 1478 hingga 1518. Konflik ini terjadi sebagai reaksi langsung atas dominasi Portugis di kawasan strategis Malaka yang mengancam kedaulatan dan kepentingan perdagangan Demak serta wilayah Nusantara lainnya pada 13 Agustus 2026.
Portugis menguasai Malaka pada 1511 di bawah pimpinan Jenderal Afonso de Albuquerque dengan kekuatan 1.200 prajurit dan 18 kapal. Penguasaan ini memberikan Portugis kendali atas jalur perdagangan penting di Selat Malaka, yang juga menjadi akses vital bagi Kerajaan Demak dan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
Kejatuhan Malaka memicu kekhawatiran dan kemarahan Demak karena mengancam jalur perdagangan rempah-rempah yang menjadi sumber kekayaan dan pengaruh kerajaan tersebut. Selain itu, Portugis dikenal melakukan ekspansi agresif dengan tujuan mendominasi perdagangan dan wilayah strategis di Asia Tenggara.
Peran Raden Patah dalam Perlawanan
Raden Patah, sebagai raja pertama Kerajaan Demak, mengambil peran sentral dalam memimpin perlawanan terhadap Portugis. Ia mempersiapkan kekuatan militer dan membangun aliansi dengan kerajaan-kerajaan di Jawa dan sekitarnya untuk menghadapi ancaman Portugis.
Menurut laporan sejarah, perlawanan ini bukan hanya soal mempertahankan wilayah, tetapi juga mempertahankan identitas dan kedaulatan bangsa dari penjajahan asing yang semakin menguat di wilayah Nusantara.
Konteks Strategis dan Ekonomi
Kontrol Portugis atas Malaka mengganggu arus perdagangan penting yang selama ini dikuasai kerajaan-kerajaan lokal, termasuk Demak. Kerajaan Demak melihat ancaman ini sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi dan politiknya.
Selain itu, keberadaan Portugis yang membawa misi penyebaran agama Kristen juga menjadi faktor yang memperketat hubungan antara Demak dan Portugis, mengingat Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang kuat di Pulau Jawa.
Strategi dan Jalannya Perlawanan Demak
Kerajaan Demak mengorganisasi perlawanan dengan membangun armada laut dan menggalang kekuatan militer yang cukup solid. Perlawanan ini juga melibatkan serangan langsung ke pos-pos Portugis di wilayah pesisir untuk menghambat ekspansi dan penguasaan mereka.
Perlawanan ini berlangsung cukup intens dan menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Nusantara karena menandai awal perlawanan lokal terhadap agresi kolonial Eropa di Asia Tenggara.
Dampak dan Relevansi Sejarah
Perlawanan Demak terhadap Portugis menjadi simbol perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia dari penjajahan asing. Konflik ini memperkuat posisi Demak sebagai kerajaan Islam pertama yang berperan penting dalam sejarah politik dan sosial di Jawa.
Menurut sumber sejarah, perlawanan ini juga menjadi cikal bakal perjuangan lanjutan yang dilakukan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dalam menghadapi kolonialisme Eropa.
"Perlawanan Demak terhadap Portugis merupakan bukti nyata tekad mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa," ujar sejarawan Nusantara, Dr. Ahmad Fauzi.
Kesimpulan
Kerajaan Demak yang berdiri sejak 1478 dan dipimpin oleh Raden Patah sebagai raja pertama, melakukan perlawanan terhadap Portugis yang menguasai Malaka sejak 1511. Latar belakang perlawanan ini terutama terkait dengan ancaman terhadap jalur perdagangan dan kedaulatan wilayah yang sangat vital bagi Demak. Perlawanan ini menjadi tonggak awal perjuangan Nusantara melawan kolonialisme Eropa di abad ke-16.