Leicester City Dijual Setelah Mengalami Kerugian dan Degradasi
FajarBali.co.id Leicester City dijual oleh keluarga Srivaddhanaprabha setelah klub mengalami kerugian besar dan degradasi ke kasta ketiga Liga Inggris untuk musim 2026/27, dilansir dari Detik Sport.
Dalam lima tahun terakhir, Leicester City mencatat kerugian finansial sebesar 92,5 juta Pounds, 89,7 juta Pounds, 19,4 juta Pounds, dan terakhir 71,1 juta Pounds.
Pada Februari 2026, klub melanggar aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan (PSR) yang menyebabkan mereka mendapat pengurangan poin dan turun kasta dari Divisi Championship ke League One.
Keluarga Srivaddhanaprabha menawarkan penjualan klub melalui proposal 'Project Lineup' dengan harga awal 222 juta Pounds atau sekitar Rp 5,4 triliun.
Penawaran tersebut mencakup seluruh portofolio klub, termasuk Stadion King Power, pusat pelatihan Seagrave, dan Belvoir Drive senilai 204 juta Pounds.
Meski demikian, nilai pasar Leicester City diperkirakan hanya sekitar 150 juta Pounds atau Rp 3,6 triliun, menyusul performa klub yang menurun dan laporan keuangan yang terus merugi.
Aiyawatt Srivaddhanaprabha, pimpinan keluarga pemilik klub, awalnya menolak penjualan. Namun, mereka tampaknya tidak mampu menahan kerugian yang berkelanjutan.
"Kami sudah mencoba bertahan, tetapi situasi finansial terus memburuk," ujar Aiyawatt Srivaddhanaprabha.
Leicester City pernah mencatat sejarah dengan menjadi juara Premier League pada musim 2015/2016. Namun, setelah itu klub kehilangan banyak pemain kunci ke tim besar seperti Riyad Mahrez ke Manchester City dan N'Golo Kante ke Chelsea.