Xiaomi Mi 8 Review 2026 yang Nendang di Kamera dan Face Unlock Infrared
- Video 2160p/30fps dan slow motion 1080p/240fps bukan sekadar angka
- Kamera depan terhubung ke pengalaman face recognition di notch
- Notch “19-ish-to-9” dan infrared face recognition: tampil rapi, tapi ada trade-off
- Bagian biometrik: apa yang Mi 8 berikan dan apa yang tidak
- Performa, layar, dan desain: saya menilai sebagai flagship “era transisi”
- Checklist spesifikasi yang layak Anda perhatikan sebelum memutuskan Xiaomi Mi 8
- Cons yang harus Anda terima kalau memilih Xiaomi Mi 8 di 2026
- Rekomendasi saya untuk siapa Xiaomi Mi 8 paling masuk akal
FajarBali.co.id Xiaomi Mi 8 masih layak dibahas pada 2026, terutama kalau fokus Anda kamera belakang dan cara membuka kunci yang memanfaatkan infrared. Dari spesifikasinya, Mi 8 terasa seperti puncak pendekatan Xiaomi di kelas flagship “vanilla” saat itu.
Di artikel ini saya bedah apa yang benar-benar menonjol: konfigurasi kamera belakang dual 12MP dengan OIS, lengkap dengan kemampuan video 2160p/30fps, serta infrared face recognition yang ada di modul notch. Saya juga jujur soal batasnya, karena tidak semua yang terlihat “wah” otomatis cocok untuk pemakaian modern.
Mi 8 tidak mengandalkan klaim besar sendirian. Menurut referensi GSM Arena, kamera belakangnya berbagi modul dengan Mi Mix 2S, dan itu penting karena menunjukkan Xiaomi konsisten merancang sistem tangkap gambar mereka pada era tersebut.
Secara detail, kamera belakang Mi 8 punya dua sensor 12MP. Sensor utama berukuran sensor Type 1/2.55", piksel 1.4µm, aperture f/1.8, dukungan dual pixel PDAF, serta OIS. Di sisi lain, sensor sekunder juga 12MP, dengan sensor Type 1/3.4", aperture f/2.4, autofokus, dan dukungan 2x zoom.
Dari spesifikasi ini, “rasa” yang bisa saya tarik secara logis adalah Mi 8 punya peluang bagus untuk foto malam atau indoor dibanding kamera yang cuma mengandalkan aperture lebih sempit dan tanpa OIS. OIS memberi stabilitas saat tangan bergerak, sementara dual pixel PDAF mempercepat respons fokus.
Video 2160p/30fps dan slow motion 1080p/240fps bukan sekadar angka
Saya melihat Xiaomi memasang kemampuan perekaman yang masuk akal untuk kebutuhan kreator ringan. Referensi menyebut video 2160p/30fps, lalu slow motion 1080p/240fps. Untuk era 2018-an, kombinasi ini memang jadi “nilai jual” yang terasa sampai sekarang untuk kebutuhan memotret momen.
Namun, Anda tetap perlu menilai konteksnya. Di 2026, standar stabilisasi video dan pemrosesan gambar biasanya sudah jauh lebih tinggi di smartphone baru. Mi 8 tetap bisa menarik untuk koleksi kamera atau penggunaan sekunder, tapi bukan berarti Anda akan mendapat pengalaman setara kamera flagship modern.
Kamera depan terhubung ke pengalaman face recognition di notch
Bagian yang sering dilupakan adalah cara Mi 8 “membuka” wajah dengan infrastruktur infrared. Referensi GSM Arena menyebut ada infrared face recognition camera pada area notch. Ini berarti sistem unlock-nya punya elemen khusus untuk mendeteksi wajah dengan bantuan infrared, bukan cuma kamera biasa.
Catatan penting untuk keputusan Anda: mi 8 yang Anda incar di kategori “vanilla” tidak memakai set fitur 3D face mapping seperti Explorer Edition. Jadi, untuk kebutuhan keamanan/kecepatan unlock di beragam kondisi cahaya, hasil akhirnya tetap bergantung pada implementasi sensor dan pemrosesan perangkat.
Notch “19-ish-to-9” dan infrared face recognition: tampil rapi, tapi ada trade-off
Mi 8 mengusung desain layar dengan rasio “19-ish-to-9” dan notch. Notch saat itu memang umum untuk kelas flagship, tapi pada praktiknya ia tetap mengambil ruang tampilan sekaligus jadi tempat modul sensor penting.
Pada Mi 8, modul notch berperan tidak hanya untuk estetika. Referensi menegaskan adanya infrared face recognition camera. Jadi, notch di Mi 8 punya fungsi nyata: mendukung metode autentikasi berbasis wajah yang memakai infrared.
Mi 8 “vanilla” tidak mendapat beberapa fitur unggulan Explorer Edition
Ini poin yang sering bikin orang salah ekspektasi. GSM Arena menjelaskan perbedaan antara Mi 8 Explorer Edition dan model reguler. Untuk model vanilla, Mi 8 tidak mendapat 3D face mapping milik Explorer Edition, tidak mendapat under-display fingerprint reader, dan sensor fingerprint yang dipakai adalah fingerprint rear-mounted.
Dengan kata lain, kalau Anda membeli Mi 8 reguler, Anda menerima bahwa sebagian “fitur futuristik” yang ada di Explorer Edition tidak ada. Menurut saya ini membuat Mi 8 lebih masuk akal sebagai pilihan kamera dan desain, bukan sebagai perangkat yang mengejar sensasi teknologi autentikasi paling ekstrem.
Bagian biometrik: apa yang Mi 8 berikan dan apa yang tidak
Secara fitur, Mi 8 menyeimbangkan dua pendekatan biometrik: face unlock berbasis infrared di notch, dan fingerprint di belakang. Referensi membedakan jelas bahwa fingerprint pada vanilla bersifat rear-mounted, berbeda dari Explorer Edition yang memakai under-display fingerprint reader.
Untuk pengguna yang sensitif pada kenyamanan, saya menilai sistem dual ini bisa terasa fleksibel: face unlock untuk situasi cepat, fingerprint belakang untuk situasi saat wajah tidak tertangkap optimal. Namun, “kecepatan” dan “ketepatan” di dunia nyata tidak bisa saya klaim tanpa pengujian perangkat yang benar-benar Anda gunakan di kondisi sehari-hari.
Kenapa infrared face recognition tetap jadi nilai tambah di 2026
Walau perangkatnya lama, konsep infrared memberi keuntungan saat pencahayaan tidak ideal. Referensi menyatakan adanya infrared face recognition camera di notch, yang pada prinsipnya membantu sistem membaca wajah dengan bantuan infrared.
Di 2026, Anda memang akan menemukan banyak cara unlock yang lebih modern. Tapi jika Anda menilai sebuah smartphone dari sisi “logika fitur”, keberadaan infrared tetap relevan sebagai upaya mengurangi keterbatasan face unlock yang cuma mengandalkan kamera tampak.
Performa, layar, dan desain: saya menilai sebagai flagship “era transisi”
Mi 8 diposisikan sebagai “latest top model” Xiaomi pada masanya, menggantikan Mi 7, dalam konteks perayaan 8-year anniversary. Ini berarti Xiaomi menargetkan Mi 8 sebagai flagship yang paling representatif saat itu, meski tidak semua fitur paling ekstrem hadir di versi vanilla.
Di desain, notch dan rasio layar “19-ish-to-9” memberi kesan layar tetap lega untuk konsumsi konten. Tetapi, saya juga melihat bahwa tahun pembuatan perangkat seperti ini membuat standar layar modern (refresh rate tinggi, kecerahan luar ruang, dan kualitas HDR) biasanya sudah melampaui baseline era tersebut.
Profil perangkat yang fokus ke kamera, bukan “semua fitur sekaligus”
Dari kumpulan fakta yang disebut GSM Arena, Mi 8 menonjol pada kamera belakang: sensor utama dengan aperture f/1.8, OIS, dan dual pixel PDAF, lalu sensor sekunder 2x zoom dengan aperture f/2.4. Dengan fondasi ini, pengguna yang memang suka foto jarak dekat sampai sedang akan merasa “nyambung”.
Namun, kalau kebutuhan Anda adalah perangkat yang paling mulus untuk tren 2026 seperti ekosistem AI kamera yang agresif, Mi 8 bukan pilihan yang tepat hanya dari sisi “umur teknis” dan tidak semua fitur software generasi baru tersedia.
Checklist spesifikasi yang layak Anda perhatikan sebelum memutuskan Xiaomi Mi 8
Saya sarankan Anda pakai checklist ini agar tidak membeli berdasarkan nostalgia desain. Fokus pada komponen yang benar-benar ada di referensi, terutama kamera dan sistem buka kunci.
- Kamera belakang dual 12MP dengan sensor utama Type 1/2.55" (1.4µm), aperture f/1.8, dual pixel PDAF, dan OIS.
- Kamera sekunder 12MP aperture f/2.4 dengan autofocus dan dukungan 2x zoom.
- Video hingga 2160p/30fps serta slow motion 1080p/240fps.
- Face unlock memakai infrared face recognition camera di modul notch.
- Versi vanilla vs Explorer Edition: model reguler tidak punya 3D face mapping dan fingerprint di layar tidak tersedia (fingerprint rear-mounted).
Perbandingan cepat: Mi 8 vanilla vs Explorer Edition dari sudut fitur biometrik
Agar ekspektasi Anda tidak meleset, saya ringkas perbedaan fitur yang disebut di referensi GSM Arena.
| Fitur biometrik | Mi 8 reguler (vanilla) | Explorer Edition |
|---|---|---|
| 3D face mapping | – | Ada |
| Infrared face recognition | Ada (di notch) | – |
| Fingerprint reader | Rear-mounted | Under-display fingerprint reader |
| Autentikasi wajah | Infrared-based face recognition | 3D face mapping |
Catatan jujur: saya sengaja tidak mengisi detail yang tidak disebut eksplisit di blok referensi untuk Explorer Edition, karena aturan akurasi angka dan spesifikasi wajib konsisten dengan sumber.
Cons yang harus Anda terima kalau memilih Xiaomi Mi 8 di 2026
Kalau Anda berharap Mi 8 “menang telak” melawan smartphone 2026, Anda akan kecewa. Ada beberapa batas yang menurut saya sangat masuk akal untuk dipertimbangkan, terutama karena Mi 8 bukan perangkat baru.
- Keterbatasan dibanding standar kamera modern: Mi 8 punya video 2160p/30fps dan slow motion 1080p/240fps, tapi pemrosesan dan stabilisasi generasi baru biasanya lebih konsisten.
- Versi vanilla tidak membawa fitur 3D face mapping yang ada pada Explorer Edition, sehingga Anda tidak mendapatkan paket autentikasi paling futuristik saat itu.
- Fingerprint rear-mounted tetap praktis, tetapi dalam ekosistem modern banyak pengguna terbiasa dengan under-display reader.
- Notch berarti Anda menerima kompromi ruang layar untuk modul sensor.
“Nilai sebuah smartphone lama bukan cuma pada spek kertas, tapi pada apakah spek itu masih relevan dengan kebiasaan Anda hari ini.”
Rekomendasi saya untuk siapa Xiaomi Mi 8 paling masuk akal
Kalau Anda tertarik Xiaomi Mi 8, menurut saya pilihan paling rasional adalah untuk peran yang jelas: perangkat kamera dengan fondasi sensor yang kuat, atau koleksi review smartphone era flagship Xiaomi.
Pilih Xiaomi Mi 8 jika Anda mengejar kamera belakang dan OIS
Mi 8 punya sensor utama 12MP dengan OIS, aperture f/1.8, dan dual pixel PDAF. Kalau kebiasaan Anda lebih sering memotret orang, benda, dan situasi indoor/low-light ringan, fondasi ini terasa paling relevan dibanding bagian lain.
Pilih Xiaomi Mi 8 jika Anda suka face unlock dengan infrared
Keberadaan infrared face recognition camera pada notch membuat Mi 8 punya karakter biometrik yang spesifik. Dalam rutinitas tertentu, pendekatan infrared bisa terasa lebih “tenang” dibanding face unlock yang hanya bergantung pada kamera tampak.
Jangan pilih Xiaomi Mi 8 jika ekspektasi Anda adalah pengalaman kamera 2026 yang serba otomatis
Di 2026, banyak smartphone menawarkan proses gambar yang lebih agresif, stabilisasi lebih modern, dan algoritme yang lebih matang. Dengan fokus pada fakta kamera yang disebut (misalnya video 2160p/30fps), Mi 8 masih menarik, tetapi bukan pilihan yang saya rekomendasikan sebagai perangkat utama untuk kebutuhan paling ketat.
Mi 8 bukan “barang baru”, tapi tetap punya alasan kuat: kamera belakang dual 12MP dengan OIS dan face unlock infrared di notch. Kalau Anda menghargai spesifikasi yang fungsional dan tidak memaksakan standar 2026 ke perangkat era 2018, Xiaomi Mi 8 bisa jadi pilihan yang masuk akal dan tidak terasa sia-sia.