Geothermal Soccer Indonesia Dorong Kolaborasi Edukasi dan Sepak Bola di IIGCE 2026

Smallest Font
Largest Font

FajarBali.co.id Geothermal Soccer Indonesia (GSI) memperkenalkan pendekatan kolaboratif yang menggabungkan edukasi panas bumi, komunikasi sosial, dan pembinaan generasi muda melalui sepak bola dalam forum Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) ke-12 di JICC Senayan.

Forum internasional terbesar di dunia ini dibuka pada 19 Agustus 2026 oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Melalui forum tersebut, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi penghasil listrik tenaga panas bumi nomor satu dunia pada 2030, dengan dukungan percepatan perizinan dan mitigasi isu sosial.

Menurut Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM P. Hadi Wijaya, keberhasilan pengembangan panas bumi sangat tergantung kesiapan teknis dan penerimaan sosial. "Komunikasi yang transparan, social mapping, dan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat harus dimulai sedini mungkin serta dijaga sepanjang siklus proyek," ujarnya.

Hadi juga menyampaikan bahwa program kompetisi sepak bola usia muda di sekitar wilayah kerja panas bumi (WKP) dapat mempercepat pengembangan panas bumi dan menemukan bibit atlet nasional. "Hal ini harus didukung oleh pengusaha, pemerintah, dan akademisi," tambahnya.

Dalam forum tersebut, GSI berperan aktif melakukan mitigasi isu sosial melalui edukasi dan publikasi dengan media sepak bola dan olahraga lain untuk membangun hubungan antara pelaku industri panas bumi, pemerintah, generasi muda, dan masyarakat.

Sesi GeoTalk bertema "Sepak Bola sebagai Jembatan Sosial di Wilayah Panas Bumi" mendorong pendekatan sosial yang berkelanjutan berbasis kebutuhan masyarakat.

Ketua GSI Carson Hakama menyatakan, "Pengembangan panas bumi bukan hanya tentang menghasilkan megawatt, membangun kepercayaan dan manfaat sosial." Ia menambahkan, "GSI ingin hadir sejak awal sebagai bagian dari masyarakat dengan mendengar, melibatkan generasi muda, dan menciptakan program sepak bola yang berkelanjutan. Hal ini akan menjadi terobosan baru dalam mitigasi isu sosial."

Program GSI juga mencakup coaching clinic, pelatihan pelatih lokal, dukungan perlengkapan, kompetisi usia muda, dan pembinaan talenta sebagai sarana komunikasi terbuka.

Asisten Deputi Kementerian Pemuda dan Olahraga Tri Winarno menyebut olahraga sebagai instrumen pembangunan manusia. "Coaching clinic dan pembinaan usia muda di wilayah panas bumi dapat menumbuhkan disiplin, kerja sama, pola hidup sehat, dan membuka jalur prestasi, sekaligus memperkuat kolaborasi antara sektor energi dan olahraga," katanya.

Dalam aspek social engagement, GSI menegaskan sepak bola bukan alat untuk menutupi masalah masyarakat, melainkan membuka ruang interaksi dan membangun hubungan positif antar kelompok.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PT Pertamina Geothermal Energy Edwil menjelaskan, "Panas Bumi merupakan energi masa depan Indonesia. Keberlanjutan berarti memastikan energi bersih tumbuh bersama masyarakat. Kolaborasi melalui sepak bola dapat memperluas ruang dialog, memperkuat kapasitas generasi muda, dan melengkapi penyelesaian isu sosial." Wilayah panas bumi diharapkan menjadi pusat produksi energi bersih sekaligus pusat pertumbuhan sosial dan pengembangan talenta muda.

Vice President PLTP IPP dan Kemitraan PT PLN Dicky Saputra mengatakan, "Sepak bola adalah bahasa universal yang bisa menjadi jembatan antara industri geothermal dan masyarakat, khususnya generasi muda." Ia menambahkan, "Program ini mendukung mimpi dan prestasi anak-anak di sekitar wilayah proyek serta membangun rasa memiliki dan kebanggaan terhadap daerahnya." Dengan begitu, geothermal dapat memberikan dampak positif langsung kepada masyarakat sebagai bagian dari masa depan mereka.

Editors Team
Daisy Floren

Most viewed