Kjokkenmoddinger Menjadi Bukti Kebudayaan Manusia Purba di Pantai Sumatera
FajarBali.co.id Pada 15 Agustus 2026, situs kjokkenmoddinger masih menjadi bukti penting kebudayaan manusia purba di Indonesia, khususnya di pesisir timur Sumatera dari Langsa hingga Medan. Kjokkenmoddinger adalah tumpukan sampah dapur berupa kulit siput, kerang, dan sisa makanan yang menumpuk hingga mencapai tinggi sekitar 7 meter.
Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, yaitu "kjokken" yang berarti dapur dan "modding" yang berarti sampah. Istilah ini merujuk pada gundukan sampah dapur manusia purba yang ditemukan di sepanjang pantai Indonesia, terutama di Sumatera dan beberapa wilayah pesisir lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan Madura.
Situs ini merupakan peninggalan manusia purba Homo sapiens yang hidup pada Zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Madya sekitar 10.000 hingga 5.000 SM. Mereka memanfaatkan sumber daya laut seperti kerang dan siput sebagai bahan pangan utama, yang kemudian menghasilkan tumpukan kerang yang membentuk kjokkenmoddinger ini.
Penemuan dan Artefak di Kjokkenmoddinger
Penelitian penting dilakukan pada tahun 1925 oleh Von Stein Callenfels yang menemukan beberapa artefak di lokasi kjokkenmoddinger, antara lain:
- Kapak genggam (pebble atau Kapak Sumatra) yang terbuat dari batu kali dan berbeda dari kapak Paleolitikum.
- Kapak pendek (hachecourt) berbentuk setengah lingkaran dengan sisi lengkung tajam.
- Batu pipisan yang digunakan untuk menggiling makanan dan menghaluskan cat merah untuk ritual keagamaan.
Fosil dan Bukti Kebudayaan
Selain artefak alat batu, ditemukan juga tulang belulang, pecahan tengkorak, dan gigi manusia purba di sekitar tumpukan. Kerang yang menumpuk selama ribuan tahun akhirnya menjadi fosil sebagai saksi aktivitas manusia purba tersebut. Hal ini menunjukkan manusia Mesolitikum cenderung tinggal di tepi pantai dan bergantung pada hasil laut untuk kehidupan mereka.
Lokasi Penemuan Kjokkenmoddinger di Indonesia
Kjokkenmoddinger ditemukan terutama di wilayah pesisir timur Sumatera, dari Langsa di Aceh hingga Medan. Selain Sumatera, situs serupa juga ditemukan di beberapa daerah pesisir lain di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan Madura, yang memperluas pemahaman tentang penyebaran kebudayaan ini di Nusantara.
| Lokasi | Jenis Artefak | Keterangan |
|---|---|---|
| Langsa, Aceh | Kapak genggam, tulang belulang | Alat batu Mesolitikum dan sisa manusia purba |
| Medan, Sumatera Utara | Kapak pendek, batu pipisan | Alat penggiling dan alat ritual |
| Jawa Barat | Kerang fosil, pecahan tulang | Fosil hasil aktivitas manusia purba pesisir |
Fungsi dan Manfaat Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger berfungsi sebagai bukti sejarah aktivitas manusia purba di pesisir, menunjukkan pola hidup yang bergantung pada sumber daya laut. Sampah dapur yang menumpuk ini memberikan informasi penting terkait pola makan, alat yang digunakan, dan ritual keagamaan melalui cat merah yang dihaluskan menggunakan batu pipisan.
Menurut laporan Kompas, penemuan kjokkenmoddinger memberi gambaran bahwa manusia purba Mesolitikum lebih memilih tinggal di daerah pantai untuk kemudahan mendapatkan makanan laut dan menggunakan alat-alat batu sebagai sarana hidup sehari-hari.
"Kjokkenmoddinger membantu membuka tabir sejarah bagaimana manusia purba memanfaatkan lingkungan sekitar secara berkelanjutan," ujar seorang arkeolog dari Universitas Indonesia.