PKI Menuntut Pembentukan Angkatan Kelima untuk Persenjataan Buruh dan Tani
FajarBali.co.id Partai Komunis Indonesia (PKI) menuntut pemerintah Indonesia membentuk Angkatan Kelima pada 24 Agustus 2026 sebagai unsur pertahanan baru dengan tujuan mempersenjatai 15 juta buruh dan tani. Gagasan ini diajukan Ketua PKI DN Aidit pada Januari 1965 dalam konteks Demokrasi Terpimpin dan konfrontasi dengan Malaysia.
Angkatan Kelima diusulkan menjadi unsur kelima dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang saat itu terdiri dari Angkatan Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian. PKI menginginkan unsur baru ini untuk menyalurkan bantuan senjata dari China dan menasakomisasi angkatan bersenjata, sekaligus sebagai antisipasi konfrontasi militer dengan Malaysia.
Perdana Menteri China, Zhou En Lai, datang ke Indonesia pada April 1965 dan mendesak pembentukan Angkatan Kelima dengan menawarkan bantuan 100.000 senjata ringan kepada Indonesia. Tawaran ini disampaikan langsung kepada Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI di hadapan rakyat Komando Operasi Tertinggi (KOTI). Keputusan akhir pembentukan Angkatan Kelima diserahkan kepada Presiden Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi.
Gagasan DN Aidit dan PKI
DN Aidit mengusulkan pembentukan Angkatan Kelima dengan mempersenjatai sekitar 15 juta buruh dan tani di seluruh Indonesia. Tujuan utama adalah untuk menguatkan posisi PKI dalam struktur kekuatan nasional dan mendukung konfrontasi militer dengan Malaysia yang terjadi pada masa itu.
Dukungan dan Tekanan dari China
China, melalui Perdana Menteri Zhou En Lai, memberikan dukungan kuat melalui penawaran bantuan senjata. Hal ini menandakan keterlibatan internasional terutama dari blok komunis dalam isu pembentukan Angkatan Kelima.
Penolakan dan Kontroversi
Meski mendapatkan dukungan dari PKI dan China, pembentukan Angkatan Kelima ditolak keras oleh Angkatan Darat dan unsur militer lainnya. Mereka menilai langkah ini bisa mengancam stabilitas nasional dan mengganggu keseimbangan kekuatan dalam ABRI.
Penolakan ini berakar pada kekhawatiran agar Angkatan Kelima tidak menjadi alat politik PKI untuk menguasai militer dan negara.
Peran Angkatan Kelima dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Konfrontasi dengan Malaysia pada 1960-an menjadi salah satu alasan utama PKI menuntut pembentukan Angkatan Kelima. Dengan persenjataan buruh dan tani, PKI berharap bisa memperkuat dukungan rakyat dalam menghadapi ancaman luar.
Namun, rencana ini tidak pernah terealisasi sepenuhnya karena dinamika politik dan militer saat itu yang berujung pada peristiwa 1965.
Data dan Perbandingan
| Unsur ABRI | Status 1965 | Jumlah Personel (perkiraan) | Fungsi Utama |
|---|---|---|---|
| Angkatan Darat | Resmi | Ratusan ribu | Pertahanan darat dan keamanan nasional |
| Angkatan Laut | Resmi | Puluhan ribu | Pengamanan wilayah laut |
| Angkatan Udara | Resmi | Puluhan ribu | Pertahanan udara |
| Kepolisian | Resmi | Ratusan ribu | Penegakan hukum dan keamanan dalam negeri |
| Angkatan Kelima (usulan PKI) | Belum terbentuk | 15 juta buruh dan tani | Persenjataan rakyat untuk tujuan politik dan konfrontasi |
Kutipan Narasumber
"PKI menuntut pembentukan Angkatan Kelima sebagai bentuk perjuangan untuk mempersenjatai rakyat demi menghadapi ancaman konfrontasi dengan Malaysia dan memperkuat pengaruh ideologi mereka," ujar DN Aidit, Ketua PKI pada 1965.