Sepp Blatter Usulkan Lise Klaveness Gantikan Gianni Infantino di FIFA
FajarBali.co.id Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengusulkan Lise Klaveness sebagai pengganti Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA usai final Piala Dunia 2026, seperti dilansir dari Bola.
Usulan Blatter muncul di tengah kritik terhadap Infantino terkait rencana penjualan sebagian kepemilikan kompetisi FIFA kepada investor swasta yang memicu kontroversi besar dan penurunan dukungan.
UEFA dan Perdana Menteri Britania Raya, Andy Burnham, bahkan meminta Infantino mundur dari jabatannya.
Melalui media sosial, Blatter menyatakan, "Piala Dunia terpanjang telah berakhir dengan juara yang tepat. Namun, dalam perjalanan menuju peluit akhir, turnamen itu kehilangan kredibilitasnya. Politik tidak boleh membayangi sepak bola. Kini saatnya para penggemar, pemain, dan asosiasi nasional merebut kembali sepak bola dan mengembalikannya ke akar melalui kepemimpinan baru."
Blatter menilai Lise Klaveness, Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, sebagai sosok ideal pengganti Infantino. Jika terpilih, Klaveness akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Presiden FIFA.
Blatter mengatakan, "Lise Klaveness layak mendapat penghormatan setinggi-tingginya. Dia adalah satu-satunya sosok yang selalu mengambil sikap tegas dan tidak mengikuti arus utama. Di FIFA, sekarang adalah waktu yang tepat bagi seorang perempuan untuk memimpin."
Pernyataan Blatter mendapatkan respons positif dari penggemar sepak bola, terutama di Reddit, dengan komentar mendukung seperti "Ini pendapat yang sangat bagus," dan "100 persen pilihan yang tepat. FIFA benar-benar membutuhkan sosok seperti dia."
Seorang penggemar mengaku terkejut dengan pernyataan Blatter, "Sepp, saya benar-benar tidak menyangka Anda akan mengatakan itu. Tapi Anda benar." Komentar lain menambahkan, "Nominasi yang fantastis. Dan sangat mengejutkan!"
Jurnalis sepak bola Inggris, Henry Winter, juga menyatakan dukungannya kepada Klaveness sebagai calon pemimpin FIFA. Winter menilai dunia sepak bola akan lebih baik jika Klaveness yang memimpin, mengingat ia memiliki kompas moral yang kuat dan berani mengkritik kebijakan FIFA yang berlebihan, mulai dari penghargaan hingga penggunaan jet pribadi petinggi organisasi tersebut.